4 Tantangan Utama Logistik Saat Pandemi Covid-19

Published 9 November 2020 by Flynd | Read on Medium.com

covid19saaslogisticsdeliveryindonesia

Photo by Jon Tyson on Unsplash

Sebuah tantangan baru hadir saat pandemi Covid-19, dimana dunia logistik sedang mencari cara untuk mencari solusi untuk kembali menyambung rantai pasokan yang sempat terputus. Lockdown yang dilakukan oleh beberapa negara tentu menciptakan kesulitan bagi supply logistik antar negara.

Tantangan yang sangat besar adalah soal kapasitas kargo udara dan laut yang kapasitasnya jauh berkurang dan perubahan kebiasaan belanja dari biasanya datang ke toko menjadi e-commerce. Semuanya harus mampu melakukan inovasi untuk mampu bertahan selama pandemi Covid-19.

Berikut 3 tantangan utama logistik saat pandemi Covid-19 :

1. Kapasitas

Sebesar 90 persen dari volume perdagangan global dilakukan dengan menggunakan angkutan laut, namun selama pandemi Covid-19 operator laut terpaksa mengurangi kapasitas dan membatalkan sejumlah pelayaran. Pasokan barang-barang manufaktur dari luar Asia mengalami penurunan yang drastis.

Logistik melalui angkutan udara juga menurun drastis terdampak dari banyaknya penerbangan penumpang yang tidak beroperasi. Kargo udara selama ini biasanya dibarengi dengan pesawat penumpang, jadi ketika pesawat penumpang tidak beroperasi maka kargo akan terkena dampak.

Pergeseran terjadi dimana kini kargo udara lebih diminati dari pada kargo laut meskipun tarif pengiriman relatif lebih mahal. Banyak maskapai penerbangan yang mulai mengalihkan bisnis mereka dari angkutan penumpang menjadi angkutan kargo untuk menyiasati bisnis selama pandemi Covid-19.

Moda kereta api juga bisa menjadi solusi untuk menyiasati pengiriman logistik seperti yang terjadi di China ke Eropa karena kalau menggunakan laut kapasitasnya terlalu besar. Jika memungkinkan menumpuh jalur darat menggunakan truk untuk distribusi logistik juga bisa menjadi solusi.

2. Permintaan

Pandemi Covid-19 mendorong pergeseran konsumen dari pembelian konvensional dengan datang ke toko menjadi pembelian secara online. Contohnya di Italia, penjualan e-commerce mengalami kenaikan 81 persen dalam satu minggu sementara di China sebanyak 55 persen konsumen memilih untuk terus belanja secara online.

Kini orang yang ingin membeli mobil jarang yang datang ke showroom, mereka cuma tinggal memilih secara online dan langsung terjadi transaksi. Sementara untuk restoran kini banyak yang memberlakukan layanan antar atau menyiapkan kemasan untuk konsumsi di rumah.

Pendekatan e-commerce tentu menghadirkan tantangan baru soal pola pengiriman yang cepat tapi tidak memberikan beban biaya ekstra kepada konsumen. Solusinya tentu dengan memperbanyak lokasi penyimpanan inventaris alternatif atau konversi toko menjadi tempat penyimpanan.

3. Geografis

Krisis pandemi Covid-19 juga memaksa sejumlah perusahaan melakukan evaluasi terkait supply barang, mencari bahan baku yang lebih dekat terpaksa dilakukan meski harganya lebih mahal. Hal ini terjadi pada banyak perusahaan fashion di Amerika Serikat dimana mereka biasa mendapatkan bahan baku dari China.

Ketika virus corona mulai menghentikan aktivitas produksi di China, para produsen di Amerika Serikat terpaksa mencari sumber bahan baku pengganti. Meksiko yang lokasi geografisnya lebih dekat menjadi solusi untuk mencari sumber bahan baku pengganti.

Namun resiko yang dihadapi adalah harganya pasti lebih mahal dan kualitasnya berada di bawah barang-barang asal China yang memang sudah diproduksi secara besar. Tetapi ini menjadi solusi terbaik daripada harus menghentikan proses produksi selama pandemi.

4. Digitalisasi

Selain ketiga hal diatas, kebutuhan untuk mendigitalisasikan proses bisnis logistik pun meningkat, mengingat pekerjaan logistik yang harus tetap berjalan walaupun kondisi negara sedang lockdown. Salah satu yang dapat dilakukan untuk mengurangi kewajiban bertatap muka atau hadir secara fisik di gudang adalah dengan memiliki sistem yang dapat diakses dimanapun dan kapanpun sehingga para manajer dapat memantau kegiatan operasional tanpa berada di tempat.

Dengan bantuan sistem yang terkomputerisasi dan online itu juga, banyak pekerjaan manual dan berulang yang bisa dipotong dan membuat pekerjaan semakin cepat dan efektif supaya karyawan pun tidak perlu berlama-lama untuk stay di gudang.

Bagaimana menurut Anda, apakah ada hal lain yang tidak kami masukkan dalam artikel ini? Boleh berikan komentar Anda di kolom komentar di bawah juga. Kunjungi juga website kami di www.transflynd.com/tms untuk memulai digitalisasi proses bisnis logistik Anda!

Source:
Agility. 4 big logistics challenges of Covid-19 and how to overcome them.
IFC. The impact of Covid-19 on logistics.

Ready to start? Schedule your demo now.

Related publications

January 6, 2021

Photo by Erik Mclean on Unsplash Sejak lama layanan pesan antar makanan (food delivery) menggunakan model agregator. Dimana pelanggan memesan...

Read More

October 21, 2020

Aplikasi FlyndTMS (transflynd.com) Pada zaman digitalisasi sekarang ini, semakin banyak usaha distribusi yang beralih menggunakan sistem untuk...

Read More

November 30, 2020

Sumber: Kompas.com Jembatan timbangan atau truck scale merupakan piranti yang penting bagi keberlangsungan hidup banyak industri manufaktur di...

Read More